Kabupaten Bener Meriah adalah salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan ibukotanya adalah Simpang Tiga Redelong. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran Kabupaten Aceh Tengah yang terdiri atas tujuh kecamatan. Sebagai kabupaten yang masih sangat muda, mempunyai peluang besar untuk tumbuh dan berkembang tentunya dengan segala potensi alam serta iklim yang sangat memungkinkan untuk bisa mencapai pematangan secara ekonomi dengan segenap potensi yang dimiliki.

1. Pemandian Air Panas Simpang Balik

Kolam air panas Simpang Balik terletak di Simpang Balik sekitar 8 Km dari Kota Redelong, Kabupaten Bener Meriah. Kolam air panas ini diberi nama sesuai daerah oleh masyarakat sekitar. Kolam air panas ini sudah lama terkenal dan selalu ramai dikunjungi wisatawan ketika liburan. Ada dua lokasi pemandian air panas di Simpang Balik, yang pertama di pusat pasar yang sering dikunjungi oleh penduduk dan yang satunya berada diatas yang dibangun oleh Pemerintah Aceh. Disini dibangun 2 kolam, satu untuk pria dan satu untuk wanita. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, bila mandi di kolam ini maka dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit.

2. Air Terjun Tansaran Bidin


Air Terjun Tansaran Bidin terletak di Desa Tansaran Bidin, Kec. Bandar Kabupaten Bener Meriah dengan ketinggian mencapai 50 M menobatkannya menjadi Air Terjun Paling Tinggi di Kabupaten Bener Meriah. Lokasinya tidak jauh dari Pondok Baru yang merupakan Ibukota Kec. Bandar Kab. Bener Meriah tapi karena sarana jalan yang belum memadai, untuk mencapai lokasi air terjun terpaksa ditempuh dengan jalan kaki selama kira-kira 1,5 jam (tergantung kekuatan kaki dan kecepatan langkah masing-masing) jalan menuju ke lokasi air terjun yang berhutan dan agak berbukit membuat liburan anda makin penuh dengan petualangan.

3. Makam Datu Beru

Makam Datu Beru adalah makam untuk mengenang seorang tokoh pejuang wanita Aceh yang sejak kecil sudah memiliki jiwa kepemimpinan dan membela kebenaran pada bangsa. Datu Beru berkiprah dalam dunia politik, hukum dan merupakan satu-satunya wanita Aceh yang disegani dan layak menduduki kursi Parlemen pusat pada masa Pemerintahan Sultan Ali Mughayatsyah. Wisata Gunung di Kabupaten Bener Meriah juga telah menjadi aktifitas yang sangat digemari oleh masyarakat lokal dengan kegiatan Hicking ke Burni Telong dan Hicking ke Gunung Geuredong. Perkebunan Kopi Gayo adalah salah satu komoditi unggulan yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo. Perkebunan Kopi ini telah dikembangkan sejak tahun 1908. Selain terkenal sebagai daerah penghasil kopi, daerah ini juga terkenal sebagai kawasan agrotourism dengan berbagai produk pertanian unggulan yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung.

4. Monumen Radio Rimba Raya

Monumen Radio Rimba Raya adalah sebuah tugu yang dibangun untuk mengenang sejarah Radio Rimba Raya yang berperan sangat besar dalam mempertahankan Indonesia dari agresi Belanda. Monumen ini diresmikan oleh Menteri Koperasi/Kepala Bulog, Bustanil Arifin pada 27 Oktober 1987 pukul 10.30 WIB. Monumen tersebut terletak di kampung Rime Raya, kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah. Tugu ini selain menjadi tempat bersejarah juga menjadi salah satu obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi.
Menurut sejarahnya, perangkat Radio Rimba Raya itu dibeli pada Jhon Lee (seorang blasteran Manado-China) yang menjadi perantara pembelian perangkat radio tersebut. Perangkat Radio Rimba Raya itu dibeli di Malaysia dan dibawa ke kota Juang Bireuen. Dari kota Bireuen, perangkat itu dibawa ke Koetaradja (Banda Aceh) dan sempat dirangkai komponen-komponennya pada akhir tahun 1948, namun belum sempat mengudara, oleh pejuang-pejuang Aceh, perangkat radio itu dibawa ke kampung Rime Raya yang saat itu masuk kecamatan Timang Gajah, Aceh Tengah.

Sebelumnya, perangkat radio itu direncanakan akan dibawa ke kampung Burni Bius, kecamatan Silih Nara. Namun karena kondisi keamanan di kawasan itu tidak aman, penjajah Belanda sedang memantau proses pengiriman perangkat radio itu, maka peralatan tersebut ditempatkan di kampung Rime Raya.

Setelah melewati perjuangan berat dalam mendirikan Radio Rimba Raya, akhirnya awal Desember 1948, Radio Rimba Raya mengudara untuk memberitakan bahwa Republik Indonesia masih eksis kepada dunia luar. Dari Radio Rimba Raya ini para pahlawan Aceh mengumandangkan pesan kepada pejuang-pejuang kemerdekaan lainnya untuk terus berjuang mempertahankan negara dari penjajahan Belanda.

Share